Jurnal Jaminan Kesehatan Nasional https://jurnal-jkn.bpjs-kesehatan.go.id/index.php/jjkn <p style="text-align: justify;">Jurnal Jaminan Kesehatan Nasional (JJKN) (ISSN <a href="https://issn.lipi.go.id/terbit/detail/20210719591417451" target="_blank" rel="noopener">2798-7183</a> and E-ISSN <a href="https://issn.lipi.go.id/terbit/detail/20210719531194302" target="_blank" rel="noopener">2798-6705</a>) published by Social Health Insurance Administration Body (BPJS Kesehatan Republik Indonesia) since July 2021.</p> <p style="text-align: justify;">This journal is a forum to accommodate the ideas and thoughts of Duta BPJS Kesehatan, as well as the other parties who have high concern and awareness to develop the sustainability of the Social Health Insurance Program through scientific research and development.</p> BPJS Kesehatan en-US Jurnal Jaminan Kesehatan Nasional 2798-7183 Penggunaan WA Blast di Kantor Cabang Magelang dalam Upaya Penurunan Rasio Rujukan dan Mengamankan Peserta PRB Prolanis di FKTP https://jurnal-jkn.bpjs-kesehatan.go.id/index.php/jjkn/article/view/48 <p><strong>Abstrak: </strong>Upaya peningkatan promotif dan prefentif dalam program jaminan kesehatan dapat dilakukan dengan melakukan pengendalian rasio rujukan serta&nbsp; mengamankan peserta PRB Prolanis di FKTP dengan WA Blast. WA Blast merupakan cara yang saat ini dapat dilakukan agar rasio rujukan FKTP terkendali dan angka PRB aktif di FKTP meningkat. Pengguanan&nbsp; WA Blast pada rasio rujukan dilakukan dengan menyiaplkan informasi apa saja yang akan diberikan kepada PIC rasio rujukan FKTP, berupa data rasio rujukan terupdate dari aplikasi BI/Pcare Sigap dan kekurangan entri yang harus dikejar FKTP agar nilai rasio rujukan berada diangka 12%. Selain itu tak lupa dilakukan pemberian tips langkah dan upaya apa saja yang bisa dilakukan FKTP dalam mencapai target rasio rujukan 2021. Disisi lain untuk meningkatkan ketertarikan perserta PRB Prolanis yang baru dan mengurangi gep informasi yang didapat peserta dari FKRTL maka dilakukan WA Blast untuk mereminder. WA Blast dilakukan dengan menyiapkan terlebih dahulu data laporan PRB yang diambil dari aplikasi Vclaim &nbsp;kemudian menyiapkan informasi yang akan diberikan kepada peserta PRB Prolanis seperti pemberitahuan bahwa saat ini pasien tersebut terdaftar sebagai pasien PRB Prolanis, langkah yang harus dilakukan untuk berobat selanjutnya, informasi tentang PRB Prolanis serta no telp PIC PRB Prolanis FKTP yang bisa dihubungi jika mengalami kebingungan. Dengan WA Blast secara personal maka&nbsp; peserta dan PIC PRB Prolanis akan merasa diperhatikan sehingga dampak jangka panjang dari pandemi Covid 19 dapat diantisipasi oleh program JKN dan BPJS Kesehatan.</p> <p>Kata Kunci: Rasio rujukan, PRB Prolanis, WA Blast</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><em>: The strives to improve promotive and preventive measures in the health insurance program can be conducted by controlling the referral rates and securing participants of PRB Prolanis (Hospital Reconciliation Program in Complex Chronic Patients) in FKTP (First Level Health Facility) using WA Blast. WA Blast is a means that currently can be applied to control FKTP referral rates and to increase the number of active PRB. The use of WA Blast on the referral rates is applied by preparing the needed information given to the PIC of the FKTP referral rates as the updated referral rates data from the BI/Pcare Sigap application, and the lack of entries that FKTP must satisfy which is 12% of the referral rates. Additionally, WA Blast also provides recommendations on what steps and efforts can be taken by FKTP to achieve the 2021 referral rates target. On the other hand, to attract new Prolanis PRB participants and to reduce the information gap delivered by FKRTL, WA Blast provides&nbsp; collective reminders to participants. WA Blast is applied first by preparing PRB report data taken from the Vclaim application and then preparing information that will be given to Prolanis PRB participants such as Prolanis PRB patient registration completion’s notification, procedures for further treatment, information about Prolanis PRB as well as contact numbers of the PRB Prolanis FKTP PIC in case of unclear information. Using personalized WA Blast, participants and Prolanis PRB PIC will be carefully supported and taken care of. Therefore, the long-term impact of the Covid 19 pandemic can be anticipated by the JKN and BPJS Health programs.</em></p> <p><em>Keywords: Referral rates, Prolanis PRB, WA Blast</em></p> Ardian Adi Saputro Copyright (c) 2022 ARDIAN ADI SAPUTRO https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2022-06-22 2022-06-22 2 1 10.53756/jjkn.v2i1.48 Efektivitas Case Manager dalam Upaya Kendali Mutu dan Kendali Biaya Pelayanan Kesehatan Di RSUP Dr. Hasan Sadikin https://jurnal-jkn.bpjs-kesehatan.go.id/index.php/jjkn/article/view/49 <p><strong>Abstract</strong>: In Indonesia, case management is a breakthrough offered by the Hospital Accreditation Commission to provide quality health services while still paying attention to financing, especially in Jaminan Kesehatan Nasional era. Case managers can play a role in improvement of quality services indicators and effective financing. One of the focuses of the implementation of the case manager is patient in intensive care unit. This study purposes is to examine and analyze the effectiveness of the case manager's role to improve quality of health services and cost containment in intensive care RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.</p> <p>This study uses a qualitative descriptive study approach. The participants of this study were Professional Care Providers, hospital management, patients/ families, claims unit, and BPJS Kesehatan. Data collection methods were used observation, in-depth interviews, and documentation.</p> <p>The results obtained are the role of the case manager in the intensive care of RSUP Dr. Hasan Sadikin was considered ineffective in optimizing integrated patient care and helping to improve interprofessional collaboration, facilitating the fulfillment of patient care needs, including family and caregivers. Case managers also have an ineffective role in efforts to improve quality of health services and cost containment. This is influenced by internal case manager factors which include the competence of the case manager and there were case manager who have double job. Meanwhile, factors from broader management include the provision of rewards and the establishment system and periodic evaluations. In addition, socialization about case managers is believed to optimize the role of case managers.</p> <p><em>Keywords</em>: Case manager; JKN program; quality of service; cost containment; intensive care unit.</p> <p><strong>Abstrak:</strong> <em>Case manager</em> merupakan sebuah terobosan yang ditawarkan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu namun tetap memperhatikan pembiayaan terutama pada era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). <em>Case manager</em> dapat berperan dalam membantu pencapaian indikator mutu unit pelayanan dan pembiayaan pasien yang efektif. Salah satu yang menjadi fokus</p> <p>implementasi <em>case manager</em> yakni perawatan pasien di ruang intensif<em>.</em> Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis efektivitas peran <em>case manager</em> dalam upaya pengendalian mutu pelayanan kesehatan dan kendali biaya kesehatan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.</p> <p>Penelitian ini menggunakan jenis kualitatif dengan pendekatan studi deskriptif kualitatif. Partisipan penelitian ini adalah Profesional Pemberi Asuhan (PPA), manajemen rumah sakit, pasien/keluarga pasien, bagian klaim / P3JKN, serta BPJS Kesehatan. Metoda pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan lapangan dan wawancara mendalam, serta dokumentasi.</p> <p>Hasil yang didapatkan menunjukkan peran <em>case manager</em> di ruang perawatan intensif RSUP Dr. Hasan Sadikin dinilai belum efektif dalam mengoptimalkan asuhan pasien terintegrasi serta membantu meningkatkan kolaborasi interprofesi, memfasilitasi pemenuhan kebutuhan asuhan pasien, termasuk keluarga dan pemberi asuhannya. Case manager juga belum berperan secara efektif dalam meningkatkan upaya pengendalian mutu dan pengendalian biaya pelayanan kesehatan peserta program JKN. Temuan tersebut dipengaruhi faktor internal <em>case manager</em> yang meliputi kompetensi <em>case manager</em> itu sendiri dan adanya petugas <em>case manager</em> yang merangkap pekerjaan lain. Sedangkan faktor dari sisi manajemen yang lebih luas meliputi pemberian <em>reward</em> kepada petugas <em>case manager</em> dan juga dibentuknya sistem dan evaluasi yang baik dalam implementasinya. Selain itu, sosialisasi mengenai <em>case manager</em> juga diyakini mampu mengoptimalkan peran <em>case manager</em>.</p> <p>Kata Kunci: <em>Case manager</em>; program JKN; kendali mutu; kendali biaya; perawatan intensif.</p> Salas Auladi Copyright (c) 2022 Salas Auladi https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2022-06-22 2022-06-22 2 1 10.53756/jjkn.v2i1.49 Mengukur Kemampuan Mengiur untuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tahun 2021 di Indonesia https://jurnal-jkn.bpjs-kesehatan.go.id/index.php/jjkn/article/view/51 <p>Abstract: The purpose of this study is to conduct measurements of the of Indonesians in the National Health Insurance (JKN) in 2020-2021. Indonesia, as of now, implements a national health insurance service since 2014. It is expected that JKN will expand its coverage to achieve universal health coverage (UHC) in Indonesia. BPJS Kesehatan (BPJS-K) was appointed as the administrator of JKN and had experienced deficit until 2019. One of the weaknesses of JKN in revenue collection is the absence of cross subsidy and pegged contribution in certain level of income that makes the contribution very low for the rich and vice versa for the poor. this, the current study is to increase public awareness that JKN is a cross-subsidy between the rich and the poor in order to produce a more sustainable JKN, better healthcare coverage, and better quality. The methods used in the study are quantitative and qualitative analyses using expenditure data from SUSENAS (National Socio-Economic Survey) data in March 2021 and income analysis from SAKERNAS (National Labor Survey) data in March 2021 to measure the ability to contribute to JKN proportional to their spending and income. In this study several simulations were used to calculate potential contributions based on the percentile distribution of accumulated income levels and expenditure levels of the poorest (0%) and richest (100%). The result of this study shows that 75% of the population had the ability to contribute JKN above the class 3 (informal workers) percapita per month premium (Rp. 42,000,-), 40% of the population has the ability to contribute more than Rp. 100,000, - percapita per month (class 2 informal workers contribution), and the richest 10% of the population has the ability to contribute above Rp. 215,000, - percapita per month. The results of this study demonstrate that some people have the ability to contribute more to JKN, thus making JKN to have a better sustainable financial capacity.</p> <p><em>Keywords</em>: ability-to-contribute; JKN; income level; spending; increasing rate</p> <p> </p> <p>Abstrak: Tujuan kajian ini adalah menghitung kemampuan mengiur (<em>ability-to-contribute</em>) penduduk Indonesia untuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada tahun 2020-2021. Indonesia mengimplementasikan sistem jaminan sosial sejak 2014 yang diharapkan ke depannya JKN tersebut akan lebih luas cakupannya untuk mencapai cakupan kesehatan semesta (<em>Universal Health Coverage</em>/UHC). Namun BPJS Kesehatan (BPJS-K) yang ditunjuk sebagai penyelenggara JKN masih mengalami defisit hingga pada tahun 2019. Salah satu kelemahan JKN dalam pengumpulan iuran adalah masih kurangnya subsidi silang dan kontribusi dipatok pada pendapatan tertentu membuat kontribusi sangat rendah bagi si kaya dan sebaliknya bagi si miskin. Maka kajian ini untuk meningkatkan kesadaran penduduk untuk meningkatkan kontribusinya ke JKN dengan subsisi silang antara si kaya dan si miskin agar dapat menciptakan JKN yang lebih berkesinambungan, cakupan kepesertaan yang lebih luas, dan perbaikan mutu layanan. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode kuantitatif dan kualitatif dengan analisis pengeluaran menggunakan data SUSENAS (Survei Sosial-Ekonomi Nasional) Maret 2021 dan analisis pendapatan menggunakan data SAKERNAS (Survei Tenaga Kerja Nasional) Maret 2021 untuk mengukur kemampuan individu dalam membayar iuran JKN sebagai proporsi dari pengeluaran pendapatan mereka. Dalam kajian ini beberapa simulasi digunakan untuk menghitung kontribusi potensial berdasarkan persentil distribusi akumulasi tingkat pendapatan dan tingkat pengeluaran penduduk dari termiskin (0%) dan terkaya (100%). Hasil dari kajian ini adalah sebanyak 75% penduduk mempunyai lebih besar dari iuran peserta bukan penerima upah (PBPU) kelas 3 per orang per bulan (Rp. 42.000,-), 40% penduduk mempunyai kemampuan mengiur lebih besar dari Rp. 100.000,- per orang per bulan (setara iuran PBPU kelas 2 per orang per bulan), dan 10% penduduk terkaya mempunyai kemampuan mengiur lebih besar dari Rp. 215.000,- per orang per bulan. Dari hasil kajian ini ditemukan bahwa sebagian orang mempunyai kemampuan mengiur untuk berkontribusi lebih untuk JKN, sehingga JKN dapat mempunyai kapasitas keuangan berkelanjutan yang lebih baik.</p> <p>Kata kunci: kemampuan mengiur; iuran JKN; tingkat pendapatan; pengeluaran; kenaikan iuran</p> <p> </p> <p> </p> <p> </p> <p> </p> Andhika Nurwin Maulana farah Purwaningrum hasbullah thabrany Yuli Fitrianti Farida Tri Hartini Copyright (c) 2022 Andhika Nurwin Maulana, farah Purwaningrum, hasbullah thabrany https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2022-06-22 2022-06-22 2 1 10.53756/jjkn.v2i1.51 A Factors Affecting the Achievements of Performance-Based Capitation: A Scoping Review https://jurnal-jkn.bpjs-kesehatan.go.id/index.php/jjkn/article/view/52 <p><strong>Abstract</strong>: Primary care facilities (FKTP) are the vanguard in the National Health Insurance Program (JKN). The implementation of performance-based capitation (Kapitasi Berbasis Kinerja or KBK) is an effort to ensure FKTP performance through capitation payment arrangements to improve patient satisfaction, quality of health services, and cost-efficiency. Although overall FKTP performances have increased, from 9,276 FKTP that carried out KBK, only 15% achieved perfect performance (100%), with only one of three KBK indicators reached, namely the non-specialist referral ratio. This study aims to review existing literatures to compile various factors that affect the achievement of KBK. Literature searches were conducted systematically in 2016-2021 using PubMed, Google Scholar, PubMed Central, Researchgate, and other sources. The keywords used are capitation, based, performance, and commitment. Literature selection produces nine articles that match the criteria for analysis. Some of the factors that affect the achievement of KBK are the availability of human resources (medical and non-medical personnel), the availability of medical devices, the availability of information systems, governance and organization, and financing. Fulfilment of these factors is needed to achieve KBK indicators.</p> <p><em>Keywords</em>: indicator, capitation, performance, commitment, JKN</p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong>: Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) merupakan garda terdepan dalam pelayanan kesehatan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penerapan Kapitasi Berbasis Kinerja (KBK) merupakan upaya memastikan kinerja FKTP untuk meningkatkan kepuasan, mutu layanan kesehatan, dan efisiensi biaya. Meskipun secara keseluruhan kinerja FKTP mengalami kenaikan, dari 9.276 FKTP yang melaksanakan KBK hanya 15% FKTP yang mencapai kinerja 100 persen, dengan indikator KBK yang tercapai hanya satu, yaitu Rasio Rujukan Non Spesialistik. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi literatur yang ada dan mengkompilasi berbagai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap capaian indikator KBK Program JKN. Penelusuran literatur dilakukan</p> <p>secara sistematis periode tahun 2016-2021 menggunakan PubMed, Google Scholar, PubMed Central, Researchgate dan sumber lainnya. Kata kunci yang digunakan dalam penelusuran literatur adalah kapitasi, berbasis, kinerja, komitmen. Seleksi literatur menghasilkan 9 artikel sesuai kriteria untuk dianalisis. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap capaian KBK yaitu ketersediaan sumber daya manusia (tenaga medis dan non medis), ketersediaan sarana prasarana, ketersediaan sistem informasi, tata kelola dan organisasi serta pembiayaan. Diperlukan pemenuhan terhadap faktor-faktor tersebut agar indikator KBK dapat tercapai<em>.</em></p> <p><em>Kata kunci: </em>indikator, kapitasi, berbasis, kinerja, komitmen, JKN</p> Ari Dwi Aryani Copyright (c) 2022 Ari Dwi Aryani https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2022-06-22 2022-06-22 2 1 10.53756/jjkn.v2i1.52 Employee Opinion: Studi Deskriptif tentang Keterikatan, Kepuasan dan Komitmen Kerja Pegawai BPJS Kesehatan https://jurnal-jkn.bpjs-kesehatan.go.id/index.php/jjkn/article/view/53 <p><strong>Abstract</strong>:<em> The transformation of human resource management (HR) encourages every organization or company to position employees as their human resources as one of the key factors driving success. Currently, employees are no longer valued as resources that will run out at a certain time, but are valued as assets (capital) that will increase in value over time. BPJS Kesehatan as an organization that places the function of HR management as one of the strategic aspects makes various efforts to increase employee productivity. Not only through improving policies, systems, work processes and work equipment used, but also increasing focus on more optimal HR management. Duta BPJS Kesehatan as individuals who work at BPJS Kesehatan are not only considered as workers who must always succeed in achieving targets (business orientation) but are also seen as individuals who have personal aspects that must be considered and managed properly (people orientation). This study uses a descriptive quantitative approach with data collection carried out by filling out the Employee Opinion Survey (EOS) and focus group discussions (FGD) to get an overview of employee opinions which can then be used as one of the considerations in making improvements in order to increase work productivity. The results of this study indicate that the employee engagement index is 91.80%, the employee satisfaction index is 92.35% and the employee commitment index is 94.30%. </em><em>Therefore, it can be concluded that Duta BPJS Kesehatan have a very high level of work engagement with the organization, satisfied with their work and have a high commitment to provide the best performance.</em></p> <p><em>Keywords: Employee</em><em> opinion, employee engagement, employee satisfaction, employee commitment</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong>: Transformasi manajemen sumber daya manusia (SDM) mendorong setiap organisasi atau perusahaan untuk memposisikan pegawai sebagai sumber daya manusia yang dimiliki sebagai salah satu faktor kunci pendorong keberhasilan. Saat ini pegawai tidak lagi dinilai sebagai sumber daya (<em>resource</em>) yang akan habis pada waktu tertentu, namun dinilai sebagai aset (<em>capital</em>) yang akan</p> <p>bertambah nilainya seiring bertambahnya waktu. BPJS Kesehatan sebagai organisasi yang menempatkan fungsi manajemen SDM sebagai salah satu aspek strategis melakukan berbagai upaya meningkatkan produktivitas pegawai. Tidak hanya melalui perbaikan kebijakan, sistem, proses kerja dan perlengkapan kerja yang digunakan, namun juga peningkatan fokus pada pengelolaan SDM yang lebih optimal. Duta BPJS Kesehatan sebagai individu yang bekerja di BPJS Kesehatan tidak hanya dianggap sebagai pekerja yang harus selalu berhasil mencapai target (<em>business orientation</em>) namun juga dipandang sebagai individu yang memiliki aspek-aspek personal yang harus diperhatikan dan dikelola dengan baik (<em>people orientation</em>). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan pengumpulan data dilakukan melalui pengisian <em>Employee Opinion Survey </em>(EOS) dan <em>focus group discussion </em>(FGD) untuk mendapatkan gambaran tentang opini pegawai yang selanjutnya dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam melakukan perbaikan dalam rangka peningkatan produktivitas kerja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa indeks keterikatan kerja (<em>employee engagement index</em>) sebesar 91,80%, indeks kepuasan kerja (<em>employee satisfaction index</em>) sebesar 92,35% dan indeks komitmen kerja (<em>employee commitment index</em>) sebesar 94,30%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Duta BPJS Kesehatan memiliki keterikatan kerja yang sangat tinggi terhadap organisasi, merasa puas terhadap pekerjaan yang dimiliki dan memiliki komitmen yang tinggi untuk bertahan dan berkarya di organisasi serta berupaya memberikan kinerja terbaik.</p> <p><em>Kata kunci:</em> Opini pegawai, keterikatan kerja, kepuasan kerja, komitmen kerja</p> Syarifuddin Syarifuddin Rizky Fajar Prasetyo Afrizayanti Andi Afdal Abdullah Copyright (c) 2022 Syarifuddin Syarifuddin, Rizky Fajar Prasetyo, Afrizayanti, Andi Afdal Abdullah https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2022-06-22 2022-06-22 2 1 10.53756/jjkn.v2i1.53